Download

Sabtu, 08 Oktober 2011

GANGGUAN MOBILITAS PADA LANSIA


GANGGUAN MOBILITAS PADA LANSIA

A.   Definisi
Imobilisasi adalah ketidak mampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat/ organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya mengakibatkan luka dekubitus. Imobilisasi disamping mempengaruhi kulit secara langsung, juga mempengaruhi beberapa organ tubuh. Misalnya pada system kardiovaskuler,gangguan sirkulasi darah perifer, system respirasi, menurunkan pergerakan paru untuk mengambil oksigen dari udara (ekspansi paru) dan berakibat pada menurunnya asupan oksigen ke tubuh. (Lindgren et al. 2004)

B.   Penyebab
Berbagai kondisi dapat menyebabkan terjadinya imobilisasi, sebagai contoh:
1.    Gangguan sendi dan tulang:
2.    Penyakit rematik seperti pengapuran tulang atau patah tulang tentu akan menghambat pergerakan (mobilisasi)
3.    Penyakit saraf:
Adanya stroke, penyakit Parkinson, dan gangguan sarap Penyakit jantung atau pernafasan.
4.    Gangguan penglihatan
5.    Masa penyembuhan

C.   Akibat Imobilisasi
Imobilisasi dapat menimbulkan berbagai masalah sebagai berikut:
1.    Infeksi saluran kemih
2.    Sembelit
3.    Infeksi paru
4.    Gangguan aliran darah
5.    Luka tekan sendi kaku

D.   Faktor-Faktor Internal
Faktor-faktor internal yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas.
1.    Penurunan fungsi musculoskeletal :
Otot-otot (atrofi, distrofi, atau cedera), tulang (infeksi, fraktur, tumor, osteoporosis, atau osteomastia), sendi (arthritis dan tumor), atau kombinasi struktur (kanker dan obat-obatan).
2.    Perubahan fungsi neurologist :
Infeksi (mis; ensefalitis), tumor, trauma, obat-obatan, penyakit vascular (mis; stroke), penyakit degenerative (mis; penyakit parkinson), penyakit demielinasi (mis; sklerosis multipel), terpajan produk racun (mis; karbon monoksida), gangguan metabolic (mis; hipoglikemia), atau gangguan nutrisi.
3.    Nyeri :
Penyebab multiple dan bervariasi seperti penyakit kronis dan trauma.
4.    Defisit perceptual :
Kelebihan atau kekurangan masukan persepsi sensori
5.    Berkurangnya kemampuan kognitif :
6.    Jatuh :
Efek fisik : cedera atau faktur
Efek psikologis : sindrom setelah jatuh
7.    Perubahan hubungan social
Faktor-faktor actual ; (mis ; kehilangan pasangan, pindah jauh dari keluarga atau teman-teman)
Faktor-faktor persepsi (mis; perubahan pola pikir seperti depresi)
8.    Aspek psikologis:
Ketidakberdayaan dalam belajar, depresi

E.    Faktor-Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang berperan terhadap imobilitas :
1.    Program terapeutik
2.    Karakteristik penghuni institusi
3.    Karakteristik staf
4.    Sistem pemberian asuhan keperawatan
5.    Hambatan-hambatan
6.    Kebijakan-kebijakan institusi
F.    Pemeriksaan Fisik
1.    Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
2.    Mengkaji tulang belakang
Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
3.    Mengkaji system persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi
4.    Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
5.    Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis. cara berjalan spastic hemiparesis – stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
6.    Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
7.    Mengkaji fungsional klien
a)    KATZ Indeks
Termasuk katagori yang mana:
1)    Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah,dan mandi.
2)    Mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas.
3)    Mandiri, kecuali mandi, dan satu lagi fungsi yang lain.
4)    Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu lagi fungsi yang lain.
5)    Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, dan satu
6)    Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain.
7)    Ketergantungan untuk semua fungsi diatas.
Keterangan:
Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun dianggap mampu.
b)    Indeks ADL BARTHEL (BAI)
NO
FUNGSI
SKOR
KETERANGAN
1
Mengendalikan rangsang pembuangan tinja
0
1
2
Tak terkendali/tak teratur (perlu pencahar).
Kadang-kadang tak terkendali (1x seminggu).
Terkendali teratur.
2
Mengendalikan rangsang berkemih
0
1
2
Tak terkendali atau pakai kateter
Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24 jam)
Mandiri
3
Membersihkan diri (seka muka, sisir rambut, sikat gigi)
0
1
Butuh pertolongan orang lain
Mandiri
4
Penggunaan jamban, masuk dan keluar (melepaskan, memakai celana, membersihkan, menyiram)
0
1
2
Tergantung pertolongan orang lain
Perlu pertolonganpada beberapa kegiatan tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa kegiatan yang lain.
Mandiri
5
Makan
0
1
2
Tidak mampu
Perlu ditolong memotong makanan
Mandiri
6
Berubah sikap dari berbaring ke duduk
0
1
2
3
Tidak mampu
Perlu banyak bantuan untuk bias duduk
Bantuan minimal 1 orang.
Mandiri
7
Berpindah/ berjalan
0
1
2
3
Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda.
Berjalan dengan bantuan 1 orang.
Mandiri
8
Memakai baju
0
1
2
Tergantung orang lain
Sebagian dibantu (mis: memakai baju)
Mandiri.
9
Naik turun tangga
0
1
2
Tidak mampu
Butuh pertolongan
Mandiri
10
Mandi
0
1
Tergantung orang lain
Mandiri

TOTAL SKOR
Skor BAI :
20 : Mandiri
12-19 : Ketergantungan ringan
9-11 : Ketergantungan sedang
5-8 : Ketergantungan berat
0-4 : Ketergantungan total

G.   Pemeriksaan Penunjang
1.    Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan tulang.
2.    CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
3.    MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang. Dll.
4.    Pemeriksaan Laboratorium:
5.    Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.

H.   Manifestsi Klinis :
Dampak fisiologis dari imobilitas dan ketidakefektifan
Efek
Hasil
1.   Penurunan konsumsi oksigen maksimum
2.   Penurunan fungsi ventrikel kiri
3.   Penurunan curah jantung
4.   Penurunan volume sekuncup
5.   Peningkatan katabolisme protein
6.   Peningkatan pembuangan kalsium
7.   Perlambatan fungsi usus
8.   Pengurangan miksi
9.   Gangguan tidur
10.   Gangguan metabolisme glukosa
11.   Penurunan ukuran thoraks
12.   Penurunan aliran darah pulmonal
13.   Penurunan cairan tubuh total
14.   Gangguan sensori

1.    Intoleransi ortostatik
2.    Peningkatan denyut jantung, sinkop
3.    Penurunan toleransi latihan
4.    Penurunan kapasitas kebugaran
5.    Penurunan massa otot tubuh, atrofi muscular
6.    Osteoporosis disuse
7.    Konstipasi
8.    Penurunan evakuasi kandung kemih
9.    Bermimpi pada siang hari, halusinasi
10.  Intoleransi glukosa
11.  Penurunan kapasitas fungsional residual
12.  Atelektasis, penurunan PO2 , peningkatan PH
13.  Penurunan volume plasma, penurunan keseimbangan natrium
14.  Perubahan kognisi, depresi, dan ansietas, perubahan persepsi


I.      Penatalaksanaan
1.    Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan.
a.    Hambatan terhadap latihan
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal, perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur, kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung.
b.    Pengembangan program latihan
Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan.
Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama, pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman;
1)    Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum, selama dan setelah aktivitas diberikan)
2)    Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus)
3)    Kesulitan yang dirasakan
4)    Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan
5)    Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil)
c.    Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh lien, instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat.
2.    Pencegahan Sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik.
a.    Kontraksi Otot Isometrik
Kontraksi otot isometrik meningkatkan tegangan otot tanpa mengubah panjang otot yang menggerakkan sendi. Kontraksi-kontraksi ini digunakan untuk mempertahankan kekuatan otot dan mobilitas dalam keadaan berdiri (misalnya otot-otot kuadrisep, abdominal dan gluteal) dan untuk memberikan tekanan pada tulang bagi orang-orang dengan dan tanpa penyakit kardiovaskuler. Kontraksi isometrik dilakukan dengan cara bergantian mengencangkan dan merelaksasikan kelompok otot.
b.     Kontraksi Otot Isotonik
Kontraksi otot yang berlawanan atau isotnik berguna untk mempertahankan kekuatan otot-otot dan tulang. Kontraksi ini mengubah panjang otot tanpa mengubah tegangan. Karena otot-otot memendek dan memanjang, kerja dapat dicapai. Kontraksi isotonik dapat dicapai pada saat berada di tempat tidur, dengan tungkai menggantung di sisi tempat tidur, atau pada saat duduk di kursi dengan cara mendorong atau menarik suatu objek yang tidak dapat bergerak. Ketika tangan atau kaki dilatih baik otot-otot fleksor dan ekstensor harus dilibatkan.
c.    Latihan Kekuatan
Aktivitas penguatan adalah latihan pertahanan yang progresif. Kekuatan otot harus menghasilkan peningkatan setelah beberapa waktu. Latihan angkat berat dengan meningkatkan pengulangan dan berat adalah aktivitas pengondisian kekuatan. Latihan ini meningkatkan kekuatan dan massa otot serta mencegah kehilangan densitas tulang dan kandungan mineral total dalam tubuh.
d.    Latihan Aerobik
Latihan aerobik adalah aktivitas yang menghasilkan peningkatan denyut jantung 60 sampai 90% dari denyut jantung maksimal dihitung dengan (220-usia seseorang) x 0,7
Aktivitas aerobik yang dipilih harus menggunakan kelompok otot besar dan harus kontinu, berirama, dan dapat dinikmati. Contohnya termasuk berjalan, berenang, bersepeda, dan berdansa.
e.    Sikap
Variabel utama yang dapat mengganggu keberhasilan intervensi pada individu yang mengalami imobilisasi adalah sikap perawat dan klien tentang pentingnya latihan dan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari. Sikap perawat tidak hanya memengaruhi komitmen untuk memasukkan latihan sebagai komponen rutin sehari-hariyang berkelanjutan, tetapi juga integrasi aktif dari latihan sebagai intervensi bagi lansia di berbagai lingkungan; komunitas, rumah sakit, dan fasilitas jangka panjang. Demikian pula halnya sikap klien dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas latihan.
f.     Latihan Rentang Gerak
Latihan rentang gerak aktif dan pasif memberikan keuntungan-keuntungan yang berbeda. Latihan aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot serta meningkatkan penampilan kognitif. Sebaliknya, gerakan pasif, yaitu menggerakkan sendi seseorang melalui rentang geraknya oleh orang lain, hanya membantu mempertahankan fleksibilitas.
g.    Mengatur Posisi
Mengatur posisi juga digunakan untuk meningkatkan tekanan darah balk vena. Jika seseorang diposisikan dengan tungkai tergantung, pengumpulan dan penurunan tekanan darah balik vena akan terjadi. Posisi duduk di kursi secara normal dengan tungkai tergantung secara potensial berbahaya untuk seseorang yang beresiko mengalami pengembangan trombosis vena. Mengatur posisi tungkai dengan ketergantungan minimal (misalnya meninggikan tungkai diatas dudukan kaki) mencegah pengumpulan darah pada ekstremitas bawah.
3.    Pencegahan tersier
Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang ahli gizi, aktivitas sosial, dan keluarga serta teman-teman


J.    Masalah Keperawatan
1.      Gangguan mobilitas fisik
2.      Gangguan rasa nyaman nyeri
3.      Resiko terhadap kerusakan integritas kulit
4.      Gangguan perfusi jaringan perifer
5.      Kurang perawatan diri
6.      Resiko terhadap cidera
7.      Resiko terjadi infeksi
8.      Konstipasi

K.   Rencana Perawatan
Rencana asuhan keperawatan untuk imobilitas bertujuan untuk mempertahankan kemampuan dan fungsi, serta mencegah gangguan yang terjadi.
Diagnosa keperawatan ;
1.      Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan intoleransi aktivitas, resiko tinggi sindrom dissue
Kriteria yang diharapkan :
Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan fleksibilitas sendi-sendi
Intervensi keperawatan :
a.    Observasi tanda dan gejala penurunan mobilitas sendi, dan  kehilangan ketahanan
b.    Observasi status respirasi dan fungsi jantung pasien
c.    Observasi lingkungan terhadap bahaya-bahaya keamanan yang potensialUbah lingkungan untuk menurunkan bahaya-bahaya keamanan
d.    Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya latihan
e.     Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang tepat
2.   Kurang perawatan diri berhubungan dengan menarik diri, regresi panik, ketidakmampuan mempercayai orang lain.
Kriteria yang diharapkan :
Jangka pendek           : Klien dapat menyatakan keinginan untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dalam 1 minggu.
Jangka panjang          : Klien mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan mendokumentasikan suatu keinginan untuk melakukannya.
Kriteria evaluasi :
a)  Klien mampu makan sendiri tanpa bantuan.
b)  Klien memilih pakaian yang sesuai, berpakaian, merawat dirinya tanpa bantuan.
c)  Klien mempertahankan kebersihan diri secara optimal dengan mandi dan melakukan prosedur defekasi dan berkemih tanpa bantuan.
Intervensi :
1.      Dukung klien untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai tingkat kemampuan.
Rasional               : Keberhasilan menampilkan kemandirian dalam melakukan suatu aktivitas akan meningkatkan harga diri klien.
2.      Dukung kemandirian klien, tetapi berikan bantuan saat klien tidak mampu melakukan kegiatan.
Rasional               : Kenyamanan dan keamanan klien merupakan prioritas dalam keperawatan.
3.      Berikan pengakuan dan penghargaan positif untuk kemampuan mandiri.
Rasional               :  Penguatan positif akan meningkatkan harga diri dan mendukung terjadinya pengalaman perilaku yang diharapkan.
4.      Perhatikan klien secara  konkret, bagaimana melakukan kegiatan yang menurut klien sulit untuk dilakukannya.
Rasional               : Karena berlaku pikiran konkret, penjelasan  harus diberikan sesuai dengan tingkat pengertian yang nyata.
5.      Jika klien tidak makan karena curiga dan takut diracuni berikan makanan kaleng dan biarkan klien sendiri yang membuka kalengnya.
Rasional                 :    Klien akan melihat setiap orang makan dari hidangan yang sama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar